CG ICARE : Tingkatkan Produksi dan Produktivitas, Turunkan Biaya Produksi Pertanian
Sambas, 28/11/2025. Peran Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) pada program Competitive Grant (CG) ICARE (Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment) berfokus pada peningkatan produksi dan produktivitas melalui gerakan nasional yang disertai pengembangan SDM pertanian, menurunkan biaya usaha pertanian secara lebih efisien melalui pengembangan kawasan pertanian berbasis inovasi dan korporasi, serta pengembangan dan implementasi mekanisasi pertanian untuk percepatan pemanfaatan teknologi bagi petani.
BRMP Mektan berkolaborasi dengan BRMP Kalbar pada kegiatan yang dilaksanakan di Sungai Kelambu, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, untuk mengimplementasikan mekanisasi pertanian sebagai upaya percepatan pemanfaatan teknologi. Inovasi tersebut berupa pemanfaatan energi terbarukan melalui pompa air axial bertenaga surya dengan memanfaatkan aliran primer yang ada untuk mengairi persawahan di sekitar Desa Sungai Kelambu.
Joko Pitoyo, Pengawas Alsintan Madya BRMP Mektan sekaligus pencetus ide dan penanggung jawab kegiatan, dalam keterangannya mengatakan, “Pompa air untuk irigasi pertanian sudah cukup banyak diterapkan, umumnya menggunakan teknologi jenis pompa air sentrifugal dengan penggerak motor diesel atau bensin. Pompa air tipe sentrifugal memiliki konstruksi yang lebih simpel—dimensinya lebih ringkas, pipa hisap dan dorong dapat disambungkan secara terpisah. Namun, pada pompa air axial tidak terdapat pipa hisap, adapun pipa dorong sama seperti pada pompa sentrifugal yang tetap dapat disambungkan atau ditambahkan. Dari sisi konstruksi dan dimensi, pompa axial relatif lebih panjang; dalam hal ini panjang pipa dorong menyesuaikan ketinggian dorong yang diinginkan.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan, “Perkembangan penggunaan teknologi panel surya saat ini cukup masif dengan tren biaya investasi yang cenderung menurun. Harga panel surya per daya watt pada tahun 2025 berkisar 0,14 US$/Watt atau sekitar Rp 2.364 per Watt. Analisis investasi pompa air tenaga surya dibanding pompa air tenaga diesel atau bensin memang masih sedikit lebih mahal. Dengan rancangan debit air 375 m³ per jam, dibutuhkan investasi Rp 160.000.000 untuk pompa axial tenaga matahari, sedangkan pompa sentrifugal tenaga diesel membutuhkan biaya Rp 80.000.000. Namun, dari sisi biaya operasional, pompa sentrifugal tenaga diesel membutuhkan Rp 26.800 per jam, sedangkan pompa axial tenaga surya hanya sekitar Rp 500 per jam.”
Pompa air axial yang terpasang dikonfigurasi menggunakan 30 lembar panel surya. Setiap panel memiliki spesifikasi 44 V dengan daya maksimum 550 Watt. Pemasangan dilakukan secara seri—15 panel pertama menghasilkan total 660 Volt dengan daya 8.250 Watt. Lima belas panel lainnya juga dipasang seri sehingga menghasilkan voltase dan daya DC yang sama, yaitu 660 Volt dan 8.250 Watt. Seluruh daya tersebut kemudian dialirkan ke inverter khusus yang mengubah listrik DC dari panel surya menjadi listrik AC 3 phase 380 Volt. Meski terdapat kehilangan energi akibat proses konversi, pompa tetap dapat beroperasi meskipun cuaca mendung; misalnya pada kondisi mendung 50%, panel masih mampu menghasilkan sekitar 7.500 Watt.
Pompa air yang digunakan merupakan tipe axial dengan diameter impeler 10 inci, dikopel dengan motor listrik 3 phase 7,5 kW dengan putaran 1.450 rpm. Kapasitas pemompaan mencapai 375 m³/jam. Untuk pengairan padi seluas 1 hektare (10.000 m²) dengan kebutuhan ketinggian air 6 cm atau setara 600 m³, waktu pemompaan yang dibutuhkan hanya sekitar 1,6 jam.
Anjar Suprapto, Kepala BRMP Kalbar pada kesempatan yang sama mengatakan, “Sebagai PIC Provinsi Kalimantan Barat, kami akan terus bersinergi dalam mengimplementasikan teknologi ini di seluruh kabupaten di Kalimantan Barat pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Kami juga akan mengsinergikan kegiatan ini dengan program-program lainnya sehingga tercapai harmonisasi dari setiap kegiatan CG di Kalimantan Barat. Dengan demikian, keberlanjutan program ini dapat terus berjalan dan memberikan dampak yang jelas."
Kol. Inf. Indarto Kusnohadi, Wakorlak Satuan Tugas Swasembada Pangan Provinsi Kalimantan Barat, menyambut baik kegiatan ini. Ia mengatakan, “Implementasi dan pengembangan teknologi ini ke depan, jika diterapkan dengan baik, dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) menjadi 2–3 kali di lokasi pertanaman. Dengan memanfaatkan saluran primer yang sudah ada di lokasi ini, diharapkan dapat menanggulangi kebutuhan pengairan pada musim kemarau, di mana kebutuhan air untuk pertanaman sangat tinggi. Meskipun terjadi penurunan permukaan air, dengan pemanfaatan teknologi ini permasalahan tersebut dapat terselesaikan.”
Program swasembada melalui kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional dengan memaksimalkan pemanfaatan lahan melalui implementasi mekanisasi pertanian dan percepatan penggunaan teknologi pertanian bagi petani sebagai upaya peningkatan produksi. Selain itu, optimalisasi seluruh sumber daya yang ada serta dukungan sumber daya manusia yang kompeten juga sangat memengaruhi capaian swasembada pangan. (TS)